Kajian Bentuk dan Makna Ragam Hias Sankha Bersayap pada Candi Sambisari Kalasan Yogyakarta

Authors

  • Mumtaz Imtinan ISI Surakarta
  • Aries Budi Marwanto

Keywords:

Candi, Relief, Ornamen, Sankha

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan secara mendalam ragam hias sankha bersayap pada Candi Sambisari. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan penyajian deskripsi interpretatif serta pendekatan estetika berdasarkan teori A.A.M. Djelantik untuk menguraikan aspek visual, serta pendekatan deskriptif untuk menggambarkan objek penelitian secara faktual. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif melalui proses reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Penelitian dilakukan di Candi Sambisari, Desa Sambisari, Purwomartani, Kalasan, Sleman, DIY. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Candi Sambisari merupakan candi Hindu beraliran Siwa dengan susunan satu candi induk dan tiga candi perwara. Ornamen sankha bersayap memiliki makna simbolik yang berkaitan dengan kesuburan, karena sankha dipahami sebagai lambang air yang menjadi sumber kehidupan dan tempat tumbuhnya tanaman. Oleh karena itu, motif sankha bersayap dipahatkan pada candi sebagai harapan akan kesuburan dan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitarnya.

 

This study aims to provide an in depth description of the winged sankha decorative motif found at Sambisari Temple. The research applies a qualitative method with an interpretative descriptive approach and an aesthetic framework based on A.A.M. Djelantik’s theory to analyze the visual aspects, as well as a descriptive approach to present the object of study factually and accurately. Data were collected through observation, interviews, and documentation, and were analyzed qualitatively through data reduction, data presentation, and verification. The research was conducted at Sambisari Temple in Sambisari Village, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. The findings indicate that Sambisari Temple, a Hindu temple associated with Shaivism, consists of a main temple structure and three perwara temples. The winged sankha ornament holds symbolic meaning related to fertility, as the sankha is regarded as a symbol of water that provides life and supports the growth of plants. Therefore, the winged sankha was carved on the temple as a hope for fertility and prosperity for the surrounding community.

 

Downloads

Download data is not yet available.

References

A.A.M Djelantik, 1999, Estetika Sebuah Pengantar. Yogyakarta : Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Achari, P. S. R. R. 2015. Hindu Iconology: The Study of Symbolism and Meaning og Icaons. Bombay.

Bernet-Kempers, A. J. 1959. Ancient Indonesian Art. Cambridge: Harvard University Press.

Darma, I. K. S. W. 2019. Pengarcaan Dewa Wisnu pada Masa Hindu-Buddha di Bali (Abad VII-XIV Masehi). Forum Arkeologi, Vol. 32 No, 51–62.

Dewi, T. 2017. Relief Hias Purna-Kalasa pada Bangunan Candi Di Jawa Abad VII-- IX. In PRAJNAPARAMITA.Jakarta: Museum Nasional Indonesia.

Dharmosoetopo, R. 2003. Sima dan Bangunan Keagamaan di Jawa pada Abad IX--X TU. Yogyakarta: Prana Pena.

Ibrahim, M. 1996. Kompleks Candi Prambanan dari Masa ke Masa. Jakarta: Direktorat Perlindungan Dan Pembinaan Peninggalan Sejarah Dan Purbakala.

Istari, Rita. 2015. Ragam Hias Candi-Candi Di Jawa. Yogyakarta : Penerbit Kepel Press.

Moleong, Lexy J. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Nastiti, T. S. 2014. Jejak-Jejak Peradaban Hindu Buddha di Nusantara. Kalpataru, Majalah Arkeologi, Vol.23 No., 35--49.

Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. 1999. Metode Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Departemen Pendidikan Nasional.

Rahardhian. 2018. Eksistensi Candi Sebagai Karya Agung Arsitektur Indonesia di Asia Tenggara. Yogyakarta : PT Kanisius.

Romawati, Sri Muryantini. 2019. Selayang Pandang Candi-Candi di Yogyakarta. Yogyakarta : Balai Pelestarian Cagar Budaya D.I. Yogyakarta.

Setyastuti, Ari. Dkk. 2003. Mosaik Pusaka Budaya Yogyakarta. Yogyakarta : Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta.

Siagian, Renviller. 2001. Candi Sebagai Warisan Seni dan Budaya Indonesia. Yogyakarta : Yayasan Cempaka Kencana.

Soediman. 1976. Sepuluh Tahun Ekskavasi Candi Sambisari. Yogyakarta : Yayasan Purbakala

Soekmono. 2017. Candi Fungsi dan Pengertiannya. Yogyakarta : Penerbit Ombak

Suwarno Asmadi, 2004. Candi Sukuh Antara situs Pemujaan dan Pendidikan Seks. Surakarta : CV Massa Baru

Tabrani, Primadi. 2005. Bahasa Rupa. Bandung : Penerbit Kelir

Tim Balai Konservasi Borobudur. 2017. Borobudur pedia. Magelang : Tim Balai Konservasi Borobudur

Tim Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. 2013. Candi Indonesia seri Jawa. Jakarta : Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Tim Penyusun. 1996. Mengenal Candi Sambisari. Yogyakarta : Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Daerah Istimewa Yogyakarta

Tjandrasasmita, Uka. 1989. Pemugaran Candi Brahma Prambanan Candi Sambisari Taman Narmada. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Published

2026-04-27

How to Cite

Imtinan, M., & Aries Budi Marwanto. (2026). Kajian Bentuk dan Makna Ragam Hias Sankha Bersayap pada Candi Sambisari Kalasan Yogyakarta. Senakreasi : Seminar Nasional Kreativitas Dan Studi Seni, 5, 27-35. Retrieved from https://conference.isi-ska.ac.id/index.php/senakreasi/article/view/322